Latest Entries »

Langkah gontai kembali menghiasi jalannya negriku
Setelah sekian lama bangkit dari keterpurukan citra
Berjalan tegap menyusuri kancah international
Tersandung dan terjatuh lagi oleh ledakan yang telah lama terlupa

Berbagai media international terhipnotis oleh kejadian ini
Rumor dan alasan yang bermunculan ke permukaan
Dari ketidak puasan dalam menang-kalahnya perpolitikan negeri
Sampai kader teroris di Indonesia yang masih berkeliaran

Keresahan melanda ibukota negara
Krisis kepercayaan yang terbangun, runtuh seketika
warga asing yang akan berkunjung membatalkannya tiba-tiba
cap sarang teroris mendadak tertera di negeri yang kucinta

Pernyataan sikap menyebar ke antero jagad raya
Kutukan pun merata di pori-pori alam semesta
Tapi sang dalang tetap bersikap dingin tanpa rasa
Walau korban berjatuhan kehilangan nyawa

Ya Rabb…
Ujian ini Engkau berikan karena Engkau telah memberi kekuatan
Fenomena alam yang Engkau rancang penuh makna yang terpendam
Walau belum terkuak hikmah yang terkandung dalam beberapa kejadian
Tapi ku yakin, Engkau telah memberikan yang terbaik untuk negeri ini

Iklan

Cahaya Penerang Dunia

Malam itu terasa indah, damai penuh makna

Terang bulan mendekati purnama

Beribu bintang berdesakan hiasi alam

Menunggu kelahiran seorang insan

Yang namanya telah terukir dalam kitab sebelumnya

Seluruh pepohonan bertasbih

Angin yang membelainya pun bertahmid

Keluarga Abdul Mutholib sabar menanti

LahirLAH oase ditengah padang pasir

Sejuk, bersih, segar dan jernih

Semenjak bayi, engkau sudah dipersiapkan

Dengan berbagai ujian dan cobaan

Ayah meninggal sewaktu dalam kandungan

Ibu dan kakek menyusul waktu berumur enam dan delapan

Untuk menjadi pemimpin kelak di masa depan

Berbagai rintangan telah engkau lewati

Menjadi cahaya penerang alam semesta ini

Dalam berdakwah dan menyebarkan amanat suci

Sebagai utusan dari Dzat Yang Maha Tinggi

Dan menjadi penutup bagi para nabi

Sirahmu tersebar untuk menjadi pelajaran

Indahnya perilakumu menjadi suri tauladan

Bagi umat sepeninggalmu hingga yang akan datang

Allahumma sholli ‘ala Muhammad

Wa ‘ala ali Muhammad….

Tertuang dalam ingatan Maulid Nabi Muhammad saw….

Wahai para ulama yang lupa dengan umatnya…!

Nasehat dan ilmumu merupakan cahaya

Yang menerangi dan membuat tenang orang yang berada dalam kegelapan

Tapi kenapa moral dan nilai yang kamu bawa itu sekarang lari tunggang langgang

Menjauh…dan menjauh, sehingga figure itu telah tiada


Wahai para penguasa yang serakah…!

Kamu menjadi tulang punggung rakyat jelata

Kok malah enak-enakan ngumpulkan harta

Tidakkah kamu ingat,

Akan pikulan amanat yang amat berat


Wahai para penegak hukum yang lembek…!

Tegakkanlah hukum di negara kita kuat-kuat

Genggamlah keputusan yang adil dan bijaksana

Jangan malah ikut-ikutan nimbrung dengan para penjahat

Dan menyalahgunakan amanat


Wahai para ekonom dan pengusaha yang ber”ego” ria..!

Kenapa kamu tidak menguatkan rupiah kita…?

Kenapa kamu tidak membuka lapangan kerja…?

Sedangkan kamu melihat banyak anak negri kita yang pengangguran

Walaupun mereka telah menyelesaikan strata sarjana


Wahai para pemuda-pemudi yang malas-malasan…!

Campur tanganmu dalam memajukan bangsa diperlukan

Otakmu…, tenagamu…, pikiranmu…masih segar

Tapi kenapa kamu terbuai dengan rayuan narkoba

Yang akhirnya menghancurkan “nilaimu” di masa depan


Wahai para Ulama.., wahai para penguasa…, wahai para penegak hukum…, wahai para ekonom dan pengusaha…, wahai para pemuda-pemudi dan seluruh bangsa Indonesia…


Akankah kita saling menyalahkan orang lain selamanya

Sehingga kita mudah dipecah belah oleh para penjajah…?

Atau karena memang didikan kecil kita yang menyalahkan kodok kalo kita terjatuh?

Atau perasaan gensi yang lebih kuat sehingga kita tidak mau menyalahkan diri sendiri?


Malulah…., tahu dirilah…, introspeksi dirilah…


Singkaplah tabir budaya menyalahkan orang lain…!

Dan perbaikilah dari diri kita masing-masing

Sambunglah sendi-sendi yang telah tercerai berai…

Agar menjadi satu kesatuan yang kuat untuk bersama memperbaiki bangsa kita

Ya Rabbun ghafuurr….

Engkau Maha Mengetahui segalanya…

Kesalahan kita, kebobrokan kita, kelemahan kita dan kerusakan kita…

Maka berikanlah ampun Mu ya Rabb…

Dan berikanlah kepada kami ulama yang baik dan perbaikilah ulama kami

Berikanlah kepada kami penguasa yang baik dan perbaikilah penguasa kami

Berikanlah kepada kami penegak hukum yang baik dan perbaikilah penegak hukum kami

Berikanlah kepada kami ekonom dan pengusaha yang baik dan perbaikilah ekonom dan pengusaha kami

Berikanlah kepada kami pemuda-pemudi yang baik dan perbaikilah pemuda-pemudi kami

Berikanlah kepada kami bangsa yang baik dan perbaikilah bangsa kami…

Astaghfirullah…robbal baroya… astaghfirullah minal khotoya….


Oleh : M. Dzaky Zamani

 

1.      Muqoddimah

Ada yang menarik untuk dicermati dari pidato salah seorang tokoh Islam negeri ini yaitu ketua umum Nahdlatul Ulama (KH.Hasyim Muzadi), saat memperingati 100 hari wafatnya KH Yusuf Hasyim 29 April 2007 yang lalu sebagai mana dilansir harian pada hari senin 30 April 2007. Dalam pidatonya, tokoh tersebut tidak sungkan-sungkan mendesak pemerintah untuk mencegah masuknya ideologi transnasional ke Indonesia, baik ideologi transnasional dari Barat maupun dari Timur. Gerakan ini dinilai potensial menghancurkan ideologi negara Pancasila, UUD 1945, dan bukan tidak mungkin akan mengoyak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Hal yang sama juga dilakukan oleh Pengurus Pusat Muhammadiyah dengan mengeluarkan surat edaran yang diperuntukkan bagi para anggotanya yang juga masuk dalam organisasi transnasional. Surat itu secara tegas berisi tentang pilihan: Muhammadiyah atau organisasi yang berideologi transnasional.

 

Melihat dari 2 organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia mengeluarkan keputusan yang tidak bisa dibilang “main-main” untuk menjauhi dan melarang adanya gerakan tersebut, apakah sangat menakutkan makhluk yang bernama “Islam transnasional”itu?

 

2.      Islam (Ideologi) Transnasional & Islam Pribumi

Kata transnasional merupakan nama lain dari istilah globalisasi atau lintas batas negara. Jadi yang dimaksud dengan Islam Transnasional adalah Islam yang bermobilisasi lintas batas negara dan menerapkannya di suatu daerah tanpa melihat kebudayaan sekitar, yang sesuai dengan syariat dan atau tidak melanggarnya.

 

Menurut KH. Hasyim Muzadi, pengaruh-pengaruh asing yang masuk ke Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok Islam yang menolak sikap saling menghargai atau tidak toleran. Kelompok kedua adalah Kelompok yang mengusung dan menyebarkan paham kebebasan atau liberalisme.[1]

 

Kelompok yang pertama seperti yang disebutkan oleh Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, yaitu Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan al-Qaedah sebagai bagian dari gerakan politik dunia. Ketiga organisasi ini pada dasarnya tidak memiliki pijakan kultural yang kuat, visi kebangsaan, dan visi keumatan di Indonesia. Organisasi-organisasi tersebut telah menjadikan Islam sekadar sebuah ideologi politik, bukan jalan hidup.

 

Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Hasan al-Banna (1324ó1368 H/ 1906-1949 M) di Mesir tahun 1928. Doktrin yang menjadi inspirasi gerakan Ikhwanul Muslimin adalah pertama, gerakan ikhwan adalah gerakan Rabbaniyyah (ketuhanan). Kedua, gerakan ikhwan bersifat alamiyah (internasional). Arah gerakan ditujukan kepada semua umat manusia. Ketiga, gerakan ikhwan bersifat Islami. Orientasi dan nisbatnya hanya kepada Islam.

 

Sementara Taqiyuddin an-Nabhany terus berkampanye di kelompoknya di Suriah, Lebanon dan Yordania, dan kemudian berdirilah Hizbut Tahrir, yang berarti partai pembebasan. Maksudnya, pembebasan kaum muslimin dari cengkeraman Barat dan dalam jangka dekat membebaskan Palestina dari Israel. Konsep utama dari gerakan Hizbut Tahrir adalah khilafah Islamiyah.

 

Di luar dua kelompok tersebut, hadir pula gerakan transnasional dalam faksi yang paling radikal oleh Al Qaedah (Jihadi). Meskipun tidak ada hubungan organisasi secara langsung, tapi pengaruh Al Qaedah ini begitu luar biasa bagi kelompok-kelompok kecil yang menggunakan “teror” sebagai sarana perjuangan.

 

Sedangkan menurut sebagian pengikut Muhammadiyah, kelompok-kelompok tersebut ditambah dengan 3 kelompok lainnya yaitu Salafi dari Mekkah, Syi’ah dari Irak-Iran, Jama’ah Tabligh dari India. Adapun beberapa faktor daya tarik kelompok transnasional yang pertama ini, menurut Ilham Jaya Abdurrauf: Pertama, doktrin holistik Islam. Gugus gerakan transnasional menawarkan visi Islam yang universal dan holistik. Islam ditampilkan sebagai ajaran yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Islam adalah ajaran yang shalih likulli zamaan wamakaan (kompatibel untuk setiap waktu dan tempat). Kedua, nilai-nilai aktivisme. Gerakan transnasional secara konsisten menekankan nilai-nilai disiplin, loyalitas dan pendidikan terhadap fungsionarisnya. Dengan modal nilai-nilai tersebut, gerakan transnasional menjalankan program-programnya secara efektif dan efisien. Ketiga, orisinalitas dakwah.[2]

 

Kelompok kedua seperti yang telah tertulis diatas yaitu kelompok yang menyebarkan paham liberalisme atau pembebasan dalam Islam yang biasa disebut Islam Liberal. Nama “Islam liberal” menggambarkan prinsip-prinsip yang dianut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. “Liberal” di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Mereka percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Mereka memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam Liberal, mereka membentuk sebuah jaringan yang dinamakan Jaringan Islam Liberal (JIL). Mereka juga lebih mengedepankan akal mereka daripada nash dan mengedepankan maslahah nafs.

 

Kalau istilah Islam pribumi disini adalah Islam yang sudah berurat akar di tanah air dan lebih mementingkan substansi dan nilai-nilai Islam yang selanjutnya memasukkannya ke dalam kebudayaan setempat (akulturasi budaya). Contohnya: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah.

 

3.      Islam transnasional yang bagaimana yang menakutkan itu?

Tujuan gerakan politik Islam transnasional menurut Muhammad Niam di harian duta masyarakat adalah:  pertama: menghancurkan kekuatan politik non Islam (Barat) sebagai balasan atas kekejaman dan kesewenang-wenangan mereka di dunia Islam; kedua: mengganti sistem global dengan sistem Islam; ketiga: mendirikan negara Islam (khilafah Islamiyah), khususnya di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim yang sistem kenegaraan dan perundang-undangnya belum sesuai dengan sistem Islam.

 

Untuk mewujudkan tujuannya, gerakan ini menggunakan pendekatan jihad fisik dalam pengartian yang radikal, yaitu dengan menggunakan pendekatan perlawanan fisik terhadap musuh-musuh politik Islam ataupun dalam rangka mewujudkan cita-cita mereka untuk mengganti sistem global dengan sistem Islam. Itulah mengapa sering bisa dilihat dari manufer politik gerakan ini yang berbentuk peledakan atau pengrusakan kepentingan Barat, bom bunuh diri, pembunuhan rakyat sipil, bahkan tidak segan-segan melakukan pembunuhan sesama muslim yang tidak se-ideologi serta pengacauan sistem publik.[3]

 

Terkadang umat Islam memahami kata jihad hanya seputar lahiriah atau fisik saja seperti yang telah disebutkan diatas. Itulah yang terkadang membuat orang kurang bisa menerima Islam. Dikarenakan yang ditampakkan hanya kekerasan, terorisme, rajam, potong tangan, kerusakan, kebrutalan dan lain sebagainya. Padahal kalau kita melihat arti jihad itu bisa dituangkan dengan lembut di dalam perpolitikan, interaksi sosial, sistem ekonomi, konstitusi, moral yang semuanya itu bisa menjadi faktor yang membuat nyaman dan memajukan tanah air kita yang mempunyai substansi dan nilai-nilai Islam di dalamnya.

 

Sedangkan bahaya kelompok yang kedua adalah terlalu mempermudah segala sesuatu yang diperintahkan dan dilarang oleh syari’at Islam, dengan mengedepankan akal, kepentingan dan maslahat diri, bahkan terkadang melegalkan apa yang sudah dilarang oleh  syariat dengan alasan maslahat. Seperti melegalkannya tempat prostitusi, membolehkan hubungan sejenis dan lain-lain.

 

Dari kedua kelompok itu, terdapat hal yang memang membahayakan bagi rakyat Indonesia. Kelompok yang pertama karena “keras”nya sehingga sulit untuk menerima pendapat dan menyatu dengan kelompok yang lain. Sedangkan kelompok kedua, terlalu bebas sehingga nilai-nilai Islam tersisihkan.

 

4.      Tawaran Solusi

Untuk mengantisipasi pergerakan mereka, menurut Hasyim, sekurangnya ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, pemantapan ideologi negara Pancasila. Semua gerakan politik di negeri ini harus berasaskan Pancasila, bukan yang lain. Kedua, perlunya mengukuhkan sendi-sendi Islam moderat hingga ke level bawah masyarakat. Islam moderat inilah yang berpandangan toleran (tasamuh) terhadap pluralitas yang ada di Indonesia.[4]

 

Antisipasi terhadap pergerakan segala bentuk organisasi yang mempunyai ideologi berbeda memang penting. Demi untuk menghindari perseteruan dan persengketaan antara suku, ras, agama dan untuk menjaga persatuan antara daerah di wilayah NKRI yang mempunyai ideologi Pancasila dan bersemboyan Bhineka Tunggal Ika.

 

Maksud dari hal yang pertama untuk dilakukan yaitu, pemantapan ideologi negara Pancasila yaitu lebih memahami dan mengamalkan apa yang telah tertera di dalam Pancasila. Karena menurut penulis, di dalam Pancasila sendiri sudah terisi nilai-nilai Islam. Tetapi, sekarang ini orang yang memahami dan mengamalkannya pudar. Bahkan banyak juga yang tidak hafal. Sehingga pancasila yang merupakan asas atau ideologi bangsa Indonesia pun luntur. Dengan melihat hal yang demikian, maka perlu pemantapan kembali ideologi Pancasila dan persatuan NKRI, yang sering ditegaskan oleh para ulama-ulama NU bahwa kedua faktor (ideologi Pancasila dan persatuan NKRI) merupakan keputusan final.

 

Sedangkan yang kedua adalah mengukuhkan Islam moderat hingga ke level bawah masyarakat. Orang yang sudah mempunyai landasan moderat dan berwawasan luas, akan dapat bertoleransi dalam hal-hal yang perlu ditoleransi terhadap pluralitas masyarakat atau masyarakat yang majemuk di Indonesia. Sedangkan orang yang tidak mempunyai landasan moderat dan tidak mempunyai wawasan yang luas akan sulit menerima dan mentolerir kelompok lain dan selalu menganggap hanya kelompoknyalah yang benar.

 

Yang ketiga adalah jangan hanya mengedepankan formalitas, karena yang terpenting untuk diterapkan adalah nilai-nilai Islam atau substansinya. Banyak orang yang lebih mementingkan formalitas corak, pakaian dan pola seorang muslim tapi tidak mempunyai nilai keislaman.

 

5.      Penutup

Setelah melihat hal tersebut, perlu kita ketahui bahwasannya antara Islam transnasional dan Islam Pribumi adalah sama-sama umat Islam. Semua pihak mempunyai sandaran yang bisa dipertanggungjawabkan, yaitu dari Al-Qur’an dan Sunnah Rosul. Perbedaan hanya terdapat pada ranah interpretasi ajaran dan kedua sumber tersebut.

 

Seperti yang telah dicontohkan dalam madzahib arba’ah didalam Sunni, para imamnya mempunyai sikap tasamuh dan mengatakan kepada pengikutnya, “kalau didalam dirinya ada kesalahan untuk tidak mengikutinya sedangkan hal yang baik dan benar dipersilahkan untuk mengikutinya.” Jadi para imam tidak mengharuskan umatnya untuk fanatik kepada satu madzhab yang harus diikuti. Hanya saja jangan sampai mempermudah dan hanya mencari celah yang lebih enak saja untuk dilakukan. Begitu juga yang telah dicontohkan oleh imam-imam klasik untuk tidak saling “jidal” dalam hal ushuliyah, tapi kalaupun ada perbedaan hanya dalam furu’iyah. Begitu juga dalam Islam transnasional dan Islam pribumi, selagi itu tidak masalah ushuliyah dan qath’i, maka tidak usah saling baku hantam, mencela dan berselisih antara satu dengan yang lainnya. Tapi kalau memang sudah harus dan perlu untuk diperangi, perangilah dengan cara yang paling baik.

 

Terakhir kalinya, kalau boleh meminjam istilahnya KH.Zainuddin,MZ yaitu: “In the all professions in one commitment”. Yang berarti di dalam seluruh profesi, tapi mempunyai satu komitmen yaitu Islam. Jadi antara satu muslim dengan yang lainnya saling bantu-membantu dalam kebaikan, saling nasehat-menasehati jikalau ada kesalahan, dan tidak mudah dipecah belah oleh sebagian orang yang menginginkan kehancuran Islam.  Kata-kata profesi itu bisa diganti dengan kata yang lain, seperti kelompok-kelompok, madzahib, dan lain sebagainya, agar tetap bersatu dengan sebuah komitmen.

Wallahu a’lam Bish Showab…

 

Referensi:

1. http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=9226

2. http://aceh-media.blogspot.com/2008/01/media-aceh-pesona-islam-transnasional.html

3. Harian Duta Masyarakat 19-5-2007

4. http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1251

Rangkuman kenangan yang terukir indah

Seribu satu kisah yang sulit dan susah

Untuk tertumpah diatas pelepah

Ketika hari tersenyum cerah

Kayaknya baru kemarin kita bersama

Mempertahankan tim flp dalam sepak bola

Berpuisi ria dalam aula

Dan bertemu di Super waktu belanja

Derap langkah penuh duri

Kau jalani dengan rasa riang hati

Sewaktu menerima amanat suci

Menjadi ketua di forum ini

Canda dan tawa tersibak dari kalbumu

Cerita bahagia, sedih, lucu dan sendu

Terungkap dari mulut dan lisanmu

Yang nantinya akan membuat rindu

Aah…..

Tak terasa waktu begitu deras mengalir

Detik, jam, hari, tahun pun bergulir

Tapi banyak orang yang tak sadar tersindir

Sehingga dia tersingkir dan terjungkir

Wahai engkau yang ditunggu

Oleh masyarakat yang tengah menangis pilu

Yang didera dengan masalah tabu

Untuk memberikan kesejukan syahdu

Lautan perjuangan terbentang luas

Kau jangan hanya tersenyum puas

Ataupun enak-enakan tertidur pulas

Tapi berjuanglah dengan penuh rasa ikhlas

Harapan, doa dan titipan kami menyertaimu

Truntuk pujangga yang mau mengentas dari kawah candradimuko

Hati…

Hati alat pengatur rhytme kehidupan

Kekuatan dahsyat untuk menghalau kecemasan

Sebuah teropong yang dapat menerawang jauhnya kesenangan

Hanya untuk mendapat arti sebuah ketenangan 

Hati susah kehidupan pun gelisah

Hati senang kehidupan pun ikut riang

Hati kerdil kehidupan pun seperti kancil

Yang selalu jail dan yang suka usil 

Jikalau hati terkikis dan teriris-iris

Habis dari kebaikan manusia yang semakin menipis

Hanya gambar kejahatan yang terlukis

Diiringi kibaran bendera iblis 

Hati laksana purnama

Yang menerangi gelapnya malam

Tapi kadang menjadi hama

Yang merusak indahnya alam 

Tapi, hati perlu dididik

Biar tidak bejat seperti orang yang suka ngelirik

Dan yang bisanya cuma ngeritik

Apalagi yang punya pengetahuan picik 

Indahnya hati orang tercermin pada kelakuannya

Besarnya hati orang muncul dalam persaudaraannya

Lapangnya hati orang terpancar dalam ketenangannya

Hadirnya hati orang ada didalam kekhusyukannya 

Buruknya hati orang terlukis pada dugaannya

Sempitnya hati orang terungkap pada kepicikannya

Busuknya hati orang terlihat dalam perbuatannya

Dan kotornya hati orang tampak pada gerak-geriknya… 

Ya Ghoffaar….

Setiap hari bertambah titik noda yang mengotori hati kami

Sehingga pancaran sinarnya tak kuasa tuk menyinari diri

Tapi kami berharap Engkau mau membuatnya bagai musim semi

Menghilangkan noda menambah pancaran sinar yang menerangi

Ampunilah hamba Mu dan kabulkanlah permintaan kami tuk tetap mengabdi

Ya Rabbi…

Istiqomahkanlah dan terimalah taubat kami…

INDONESIA SEJAHTERAKAH..?

62 tahun kita diselimuti kemerdekaan

Terlelap dan terbuai dengan kehangatannya

Bermimpi….yang tidak pernah jadi kenyataan

Dilandasi dengan bantal kemalasan

 

Wahai pejuang-pejuang yang melihat kami dari alam baka

Usahamu nampak sia-sia

Kau pertaruhkan jiwa dan raga untuk merdeka

E…h, hanya digunakan untuk suka ria si penguasa

 

Rasa ego untuk memakmurkan nafsu

Menaklukkan indahnya perasaan qalbu

Mengabaikan rintihan seorang ibu

Yang duduk termangu dipinggir jalan yang berdebu

 

Wahai penguasa yang serakah

Engkau bangga dengan rumah yang mewah

Bertaburkan harta yang melimpah

Dan tidak pernah mau dianggap salah

 

Masih banyak orang yang memerlukan bantuanmu

Tapi kau hanya menampakkan hal yang semu

Kau tebarkan janji-janji palsu

Tanpa rasa malu, hanya untuk kepentingan pribadimu

 

Berjuta-juta rakyat terabaikan

Beribu-ribu sarjana tak tersentuh pekerjaan

Bertahun-tahun belajar menjadi pengangguran

Tanpa mendapatkan se”dzarrah” pun penghasilan

 

Cobaan yang berupa kesenangan telah terlewatkan

Negaraku penuh sumber daya alam dan kekayaan

Tapi kenapa tetap saja berhutang pada si setan

Yang bermulut manis tanpa ada perasaan

 

Musibah pun datang untuk mencoba

Lumpur lapindo, banjir bandang, gunung berapi dan gempa

Apakah mereka sadar dengan kejadian yang datang tiba-tiba

Menghancurkan, tanpa mengenal apa dan siapa…

 

Akankah mereka sadar…

Akankah mereka bertaubat….

Akankah mereka sabar….

Akankah mereka menjalankan amanat…

Sejahterakah Indonesiaku….

Siang itu, di kala sang surya menebarkan panasnya, membuat awan menyingkir, menjauh bahkan bersembunyi dari sengatannya, aku bertemu dengan tiga orang teman karibku yaitu Rosyid, Kurnia dan Muji di depan ruangan 105 di fakultas hukum. Mereka mengajakku untuk pergi ke warnet depan universitas, ”Alan, yuk, pergi ke warnet mumpung hari belum terlalu sore,” ajak Rosyid. “A..yuk, tapi inget loh ya, jangan lama-lama,” pintaku ke teman-teman. “ Yoi…, paling cuma buka email, terus balas,” kata Muji sambil mengemukakan alasannya. “Masak gak chatting sich, gak asyik man,”celetuk Kurnia yang memang suka chatting. “Ya terserah, yang penting gak lebih dari 2 jam,”kataku sambil berjalan menuju warnet. Karena uangku hanya pas untuk “ngenet” di warnet.

Kita bersama-sama memasuki warnet yang sudah menjadi langganan. Lalu kita masuk ke dalam ruangan internet yang berbeda, seperti yang telah ditentukan oleh mas Anton mahasiswa pasca sarjana yang mempunyai sambilan warnet itu. Kutulis beberapa website yang ingin aku ketahui. Sewaktu kubuka website berita Indonesia yang masih hangat, yaitu tentang bencana gempa bumi di DIY Yogyakarta dan Jawa Tengah yang masih belum valid beritanya, hatiku berdebar kencang, darahku mengalir deras bagai air terjun Niagara, pikiranku melayang menembus khayalan negatif dan terseok-seok menuju arah yang tak tentu. Seakan-akan aku tidak percaya dengan apa yang tertulis dalam media tersebut.

 

Ribuan jasad manusia telah terbujur kaku ditinggalkan arwahnya, puluhan ribu orang mengadukan nasibnya ke rumah sakit yang berada di sekitar daerah mereka, rumah sakit-rumah sakit pun tidak cukup menampung seluruh pasien walaupun jalan, ruang tunggu dan teras rumah sakit di jadikan bilik, tenda-tenda darurat didirikan untuk membantu sebagian keluarga yang rumahnya di luluh lantakkan oleh getaran bumi yang sangat keras itu, siang malam dokter dan perawat sibuk mengobati para pasien tanpa mengenal lelah.

 

Hujan pun mengguyur kota itu tanpa ada perasaan kasihan kepada penduduknya, wabah penyakit mulai menyebar ke sela-sela kesehatan penghuni kota itu. Lengkingan suara tangis anak yang ditinggal kedua orang tuanya memunculkan rasa iba, ketidakberdayaan seorang ibu yang melihat anak kesayangannya penuh luka terbaring di dalam kamar operasi berharap sang buah hatinya dapat kembali bercanda, tersenyum, dan tertawa seperti sebelumnya.

 

Hatiku selalu bertanya-tanya setelah keluar dari ruangan warnet speed itu, ”bagaimana ya kabar keluargaku yang ada di Yogyakarta? Daerahku kena juga apa tidak ya? ….” Aku terdiam selama perjalananku pulang ke kamar. Teman-temanku pun terheran-heran dengan keadaanku yang tidak biasa itu. Mereka menggodaku dan memancingku agar mau ketawa dan bercanda seperti hari-hari sebelumnya,” hei man, kenapa sich kamu kok sensi kayak gitu,” Kurnia mulai melepaskan kata-katanya untuk menghiburku. “ Putus ya ama dia..?” Rosyid pun tidak mau kalah sama Kurnia. “ eh, dia siapa…? Alan kan jomblo abizz,” ungkap Kurnia lagi. Begitu canda teman-temanku di pori-pori keterdiamanku.

 

Sesampainya di depan kamar 74, aku berpamitan dan berpisah dengan teman-teman untuk masuk ke kamar itu. Wajah ku yang biasanya dihiasi dengan tawa, dan senyuman, kini tak tampak lagi. Kubaringkan tubuhku diatas tempat tidurku dengan pikiran yang kalut. Kukirimkan sms berkali-kali kepada keluarga yang ada di rumah untuk menanyakan kabar, tapi tak satupun sms ku dijawab. Kuingin menelepon ke rumah, tapi uang habis karena baru akan dikirim 4 hari lagi. Akupun mau pinjam ke teman-teman dekatku, tapi pinjaman yang kemarin aja belum dibayar.

 

Aku biarkan diriku tenggelam dalam kegalauan hari itu. Kumandang adzan mendayu-dayu, waktu Ashar pun tiba, kuambil air wudlu, kuhamparkan sajadah yang selalu menemaniku dalam sholat, lalu kukerjakan kewajibanku kepada Ilahi. Doapun kupanjatkan keharibaanNya, kupinta agar keluargaku dan seluruh warga yang terkena musibah itu diberikan keselamatan, ketabahan, kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi cobaan dan ujian dariNya.

 

Kurebahkan kembali tubuhku diatas kasur yang berseprai kuning itu. Ku terawang langit-langit dikamarku dengan pandangan kosong. Tiba-tiba tone sms dari hpku berbunyi, kulihat mobile itu, ternyata dari temanku, si Roni, yang sedang menginap di rumah salah seorang diploma,”Lan, coba hubungi keluarga loe yang ada di rumah, ada gempa di Yogya, berkekuatan 6,2 skala richter, banyak korban,” tulisan message dalam hpku itu. Karena dia waktu itu melihat berita dari saluran televisi Indonesia, dan tahu kalau rumahku dekat dengan Yogyakarta.

 

Hati ini terasa tambah gundah, pikiran pun tambah kalut, kupaksakan mataku agar dapat terpejam dan bisa menenangkan seluruh anggota tubuhku. Kumerasa dinding kamarku berbisik kepadaku dan menyuruhku untuk menelpon keluarga yang di rumah. Tapi kuabaikan seluruh kata-katanya, karena baru punya penyakit “kanker” alias kantong kering.

 

Tak terasa waktu Isya’ pun berlalu. Perut kosong pun tak kurasakan. Aku hanya duduk terdiam di depan jendela kamar sambil ku pandangi purnama yang berkolaborasi dengan bintang seakan-akan mengetahui apa yang sedang kurasakan. Indahnya purnama yang menampakkan sinarnya dalam kegelapan malam, membuatku terpesona dan inginku menggapainya untuk menjadikan teman obrolanku. Ku merasa sakit, lemah dan tak berdaya waktu itu. Luapan kata-kata yang tak terbendung lagi, mengalir diatas hamparan kertas dalam diaryku dengan pena kesayangan pemberian adik waktu ku menginjak umurku yang ke 19, bertintakan hitam yang selalu siap mengungkapkan rasa bathinku. ”Hamba-Nya yang hina ini baru diuji dengan sepercik ujian. Ya Tuhanku, berikanlah kekuatan padaku untuk memikul apa yang Engkau pikulkan, dan berikanlah keselamatan, kesabaran dan ketabahan bagi keluargaku yang tinggal disana,” terbesit harapan dan do’a didalam hatiku.

 

Pagi harinya, aku masih belum bisa membuang jauh perasaan dalam hatiku. Lalu aku putuskan untuk tidak masuk kuliah waktu itu dan istirahat di kamar untuk menghilangkan rasa yang menancap dalam di hatiku. Teman-teman karibku pun bertanya-tanya, kenapa aku tidak ke kampus. Walaupun fakultas berbeda tapi masih satu gedung, makanya mereka tahu kalau aku tidak masuk kelas. Pada waktu itu, Rosyid tidak ada jam siang sehingga dia pergi ke kamarku lebih dulu dari teman-teman yang lain.

 

“Assalamu’alaiku…m,” ucapan salam Rosyid sambil mengetuk pintu. Aku pun menjawab salamnya dan membukakan pintu kamarku. “Lan, kenapa kamu gak masuk kelas? Sehat aja kan?”dia langsung memberondong pertanyaan kepadaku. “Gak papa sich, cuma ada sedikit problem aja. Ente ada uang gak, 200 rupees aja?” jawabku sambil balik bertanya. “Ada …, mau untuk apa?” tanyanya. “ Mau nelpon rumah, “jawabku. Diapun memberiku 200 rupees. “Ana tinggal dulu ya, ente disini dulu aja, sebentar kok..!” lalu aku meninggalkan kamarku untuk pergi ke wartel di samping jalan.

 

“Bhai, ana mau nelpon, bisa kan?”tanyaku kepada penjaga telepon itu yang sudah hafal sama aku. “please…,!”dia mempersilahkanku. Saat kupencet tombol nomor hp ayahku, terdengar suara nada putus. Kucoba lagi dengan redial dua kali, tapi juga masih kudengar nada yang sama. Lalu kuhubungi kakak sepupuku yang tinggal di sekitar rumahku, ku dengar nada masuk tapi tidak ada yang mengangkat hpnya. Setelah itu kuhubungi kakak perempuan sepupuku, aku juga tidak mendengar nada sambung dari telepon itu.

 

Perasaanku tambah tidak tenang bercampur aduk dengan rasa bingung dan was-was. Seluruh keluarga dekat yang kuhubungi tidak ada yang bisa memberikan jawaban kepadaku. Lalu kubelikan uang 200 rupees itu pulsa, agar bisa menghubungi rumah wherever and whenever. Kupaksa kakiku untuk melangkah kembali ke kamarku yang seakan-akan berkilo-kilo beban menggantung dan melingkar diatas pergelangan kaki.

 

Sesampaiku di kamar, si Rosyid pun menyambutku dan bertanya kepadaku, ”Gimana Lan, sudah clear belum?” Aku terdiam sebentar, lalu aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padaku pada hari yang telah lalu sampai yang baru saja terjadi. Dia juga merasa iba padaku dan memberikan sedikit sugesti untuk mencoba menghubungi orang tuaku lagi.

 

Jam yang menempel di dinding sebelah utara, menunjukkan pukul 03.30 sore. Rosyid berpamitan kepadaku untuk pulang ke kamarnya karena masih ada assignment dari dosen yang harus diselesaikan hari itu. Kuantar dia sampai depan pintu dan ucapan salam menandai perpisahan kita.

 

Kucoba lagi untuk menghubungi hp milik ayahku. “Alhamdulilla…h,” aku kegirangan waktu mendengar nada masuk. Setelah bunyi yang kelima, diangkatlah hpnya oleh ibuku yang selalu siap mendengar curahan isi hatiku. Kutanyakan tentang apa yang aku khawatirkan kepadanya. Beratus-ratus soal kuluapkan kepadanya tentang keluarga di rumah dan di Yogyakarta. Kuhapuskan debu ke-was-was-an yang melekat di dalam hatiku. Kuisi dengan air kepastian yang jernih sebagai penyejuk qolbu.

 

Jutaan puji syukur, kupanjatkan kehadirat Rabb yang telah melindungi keluargaku. Kusingkapkan tabir kesedihan yang menutupi diriku, kutinggalkan lembah kemuraman yang menancap di wajahku, dan kusegarkan kembali jasadku dengan siraman nikmat Ilahi.

 

Nada dering hpku bersuara, ku dekati dan kulihat layarnya untuk mengetahui siapa yang menelponku. Ternyata Yina, teman dari Indonesia yang sudah kukenal sebelum keberangkatanku meninggalkan tanah air. “Assalamu’alaiku..m, Lan, gimana kabar keluargamu di rumah?”tanyanya. Kujawab seperti apa yang telah diceritakan oleh bundaku. Diapun sempat kaget dan meneteskan air mata sewaktu mendengar kabar itu dari keluarganya lewat telepon. “Ya sudahlah, alhamdulillah gak ada apa-apa kok,” kataku kepadanya. Lalu dia pun mengakhiri telepon itu.

 

Inilah salah satu ombak yang menerpaku dari hamparan samudra yang sangat luas. Kutanyakan pada diri sendiri “Akankah aku tetap tegak diatasnya ataukah aku akan tenggelam dan menjadi santapan ikan-ikan buas yang kelaparan?” Kuyakinkan diri untuk tetap mengarungi samudra itu walaupun ombak selalu menerjang dan badai yang siap mengekang. Tapi ku harus selalu mempersiapkan bekal untuk melalui hambatan, halangan dan rintangan yang akan menghalangiku di perjalanan. Karena sebuah tujuan yang harus kugapai dengan izin dan ridho Ilahi.{}

Hei …dasar pengemis, bau kumal…sana pergiiiiiiiiiii….!

Entah sudah keberapa kalinya kalimat seperti itu sering terdengar di telinganya. Hari ini dari seorang satpam komplek. Kemaren lusa dari pemilik toko yang sempat ia lewati.

Pernah ia juga mampir di depan sebuah restorant mewah. Saat itu ia tak kuat lagi untuk menahan laparnya. Ia pun membuka-buka tong sampah. Tapi bukannya nasi atau sisa makanan yang ia dapatkan. Bahkan sebaliknya cercaan dan bentakan lah yang ia peroleh.

Hei,,,awas ya..jangan ngobrak-ngbrik sampah. Ntar kotor..sana pergi..!

Belum sempat ia mengambil sesuatu didalamnya. Badannya sudah terdorong oleh tangan kekar penjaga restorant tersebut. Badannya hampir tersungkur jatuh seandainya ia tak replek menahan dengan lutut dan tangan kanan demi menyelamatkan bayi di dekapannya. Lututnya berdarah karena mencium panasnya aspal hitam. Tapi ia pun menguatkan diri untuk bangkit.

***

” Ya Allah …apa salah hamba? Bukankah semua manusia sama dihadapan-Mu? Kenapa masih banyak manusia yang khilap akan mensyukuri rizki-Mu? Tangannya berat untuk hanya bersedekah buat sesamanya? Kalaulah ini merupakan cobaan dari-Mu untukku. Aku rela. Ya Allah Demi si kecil ini….aku bersumpah, aku tak akan meninggalkan agama-Mu…Ya rabb, Lindunginlah aku dan buah hatiku ini..”.

Kalimat-kalimat dan rintihan itu kerap kali muncul dalam setiap do’anya. Hanya senyum dan tangisan sang bayilah yang bisa membuatnya kuat dan tegar menjalani kerasnya kehidupan ini.

Segenap kasih ibu, ia curahkan buat anak bayinya yang berumur 4 bulanan tertidur pulas dalam timangan tangannya. Tenang …… walaupun belum menemukan sesuatu untuk makan. Namun Panasnya sinar mentari yang mencengkram dunia, membuatnya susah payah untuk mendapatkan sesuap nasi dan air untuk menyambung kehidupannya. Berjalan, berlari kesana kemari tapi tak ada yang menghiraukan akan kebutuhan dirinya.

Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul satu siang. Si kecil pun bangun dan menangis merengek-rengek meminta haknya dari seorang ibu. Sang ibu hanya terduduk lesu dan berusaha mendiamkan anaknya. Baju yang lusuh bercampur dengan debu, menghiasi tubuhnya yang masih tegar. Ibu pun tak henti-hentinya menadahkan tangannya untuk mendapatkan sesuatu dari orang-orang yang lewat.

Beberapa jenak berikutnya, seorang bapak berumur 50 tahunan lewat di hadapannya. Tapi dia mencoba untuk menjauh, dan menutup-nutupi mukanya. Sang bapak tadi curiga dan mendekatinya. Lekat ia menatapnya, kemudian memanggilnya dengan nada ragu.

“Nak Wulan ya……?”

Dengan rasa malu, dia menjawab”iiy….ya pak.”

“Kenapa kamu bisa begini?” Tanya orang setengah abad itu.

Tanpa Wulan sadari, diapun terdiam dan menitikkan air mata sambil tersedu-sedu. “………emmhh…”

“ Baiklah, Wulan, sekarang kamu ikut ke rumah bapak aja ya…?” “Trima kasih pak, bapak tidak pantas untuk menghargai murid bapak yang seperti ini.”

“Tidak apa-apa nak Wulan, siapa tahu bapak bisa bantu…?” Setelah dibujuk, Wulan pun berjalan mengikuti bapak itu, yang ternyata adalah Pak Udin yang dulu pernah menjadi gurunya di SMP 13 dan sekarang berwiraswasta, mendirikan pabrik tahu disamping rumahnya.

Setelah memasuki mobil kijang super berwarna hijau tua itu, Wulan hanya bisa tertunduk malu, tubuh kurus kering kerontang itu tak berani untuk mengangkat kepalanya menatap ke depan, hanya diam yang menemani mobil itu selama perjalanan. Tak lama kemudian, masuklah mobil itu ke dalam sebuah pekarangan rumah sederhana yang dihiasi dengan taman indah berhampar bunga berwarna-warni yang menghembuskan wangi.

“ Yuk, kita masuk rumah.”

Wulan pun turun dari mobil berjalan dibelakang Pak Udin. Bu Udin pun menyambut bapak dengan senyuman dan rasa bertanya-tanya dengan siapa yang berada dibelakangnya, seorang perempuan berpakaian kusam dengan membawa bayi diatas tangan kecilnya. Pak Udin pun mengajak ibu kedalam sebentar untuk menjelaskan dengan singkat siapa perempuan itu, dan meminta ibu untuk meminjamkan baju ibu yang lama. Hanya beberapa menit saja didalam, lalu bapak keluar dan ibu pun menyusul dengan membawa baju untuk Wulan,

“Wulan, sekarang kamu bersih-bersih dan pakai saja pakaian ibu dulu.” Lalu ibu menunjukkan dimana kamar mandinya.

“Oooh, ibu baru ingat, dia kan dulu yang sering ikut belajar bersama anak-anak SMP 13 disini,” ungkap ibu kepada Pak Udin.

“ Iya, dia Wulan, dulu anaknya masuk lima besar di kelas, tapi bapak juga belum tahu kenapa dia bisa begini,” Pak Udin menambahi kata-kata ibu. Lalu ibu pun meninggalkan bapak untuk membersihkan kamar belakang untuk Wulan.

“Klek….,” terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Wulan dengan membawa si bayi mungilnya, dengan wajah segar dan berseri-seri.

“ Wah, udah segar nich,” Tanya bapak basa-basi.

“ Ya pak, “ jawab Wulan sambil sedikit tersenyum yang telah terbenam beberapa waktu yang lalu.

“Sekarang istirahat dulu di belakang, ibu sudah mempersiapkan kamar untukmu. Sudah makan pa belum?”

“emmmhh…,belum” jawab Wulan sambil tersenyum malu

“ Ya sudah makan dulu, itu diatas meja makan masih ada nasi dengan lauknya.” Pak Udin memotong perkataannya karena sudah berpengalaman dalam psikologi anak didiknya dahulu. Wulan melangkah dengan agak ragu-ragu mau meletakkan bayinya diatas kursi.

“Eeeh…jangan gitu tho …sini bayinya, biar ibu yang pangku dulu…” cegah bu Udin lalu mengambil sang bayi itu dan memangkunya.

” Si kecil namanya sapa …nak Wulan? ” tambah bu Udin sambari menciumi bayi itu.

” Firman bu…”

Terlihat Wulan makan dengan lahapnya, untuk menghilangkan rasa lapar yang menancap dalam dirinya sejak terbitnya fajar di ufuk timur.

“Kok nggak nambah nak Wulan,” Ibu menanyainya melihat nasi yang ada di atas piring Wulan tinggal sedikit.

“ Sudah kok bu, 2 kali lagi…. Wah enak sekali bu masakannya, pasti ibu yang masak.” Puji Wulan sambil menuju ke dapur untuk menyuci piringnya.

“ Aaah bisa saja kamu Wulan, sekarang istirahat dulu,,, ibu sudah persiapkan di kamar belakang.”

“ Ya, bu.” Jawabnya singkat.

Setelah mengambil bayinya, ia pun pergi ke kamar yang telah ditunjukkan ibu kepadanya.

“ Maaf bu, Wulan boleh minta susu untuk Firman,” Wulan yang dengan terpaksa meminta kepada Bu Udin setelah melihat tanpa sengaja susu yang ada di dapur.

“ Ooh, ya, buat aja, gak papa kok.” Ibu mengizinkannya.

Didalam kamar, Wulan mulai berpikir, ada apa dengan Pak Udin, kok sampe-sampe ia baik banget, dan mau menolong muridnya yang hina ini. Tanpa tersadar diapun terlelap dalam tidurnya sedang disampingnya telah tidur si jabang bayi dengan tenang.

Langit yang biru merambat jauh digantikan dengan hitam kelamnya malam. Waktu maghrib pun hampir mendekati Isya, pak Udin memanggil Wulan sambil menunggu makan malam, untuk mengetahui tentang apa penyebabnya, kok dia bisa berubah kayak gini.

“Wulan, sudah sholat maghrib?” Pak Udin memulai percakapan.

“Sudah pak, tadi pinjam mukena punya ibu,” jawabnya.

“Duduk disini sebentar, bapak mau ngobrol sama kamu,”

“Ya pak, ….” Wulan pun menarik kursi yang telah tersedia di sekeliling meja makan.

“Anak kamu masih tidur?” Tanya bapak memulai pembicaraan.

“Masih terlelap pak….”

“Ooo, ya sudah, begini Wulan, bapak pingin tau aja, kok keadaan Wulan bisa berubah seperti ini?”

Wulan pun tertunduk sejenak, “Ceritanya panjang pak…, begini.., sewaktu saya melanjutkan studi di SMA 51 kelas 3, ada seseorang yang katanya senang dengan saya, tapi saya belum tahu siapa dia sebenarnya. Dengan kata-katanya yang sangat meyakinkan dan dengan rayuan tipu dayanya membuat hati saya jatuh bersimpuh diatas genggamannya. Orangnya keliatan alim, rajin dan berkelakuan seperti remaja-remaja masjid di sini, sehingga saya pun mau menikah dengan dia walaupun dengan nikah sirri. Sampai mengandung anak saya yang pertama ini selama 7 bulan, saya belum mengetahui dia yang sebenarnya. Baru menginjak yang ke 8 bulan, dia bertingkah laku aneh, tidak seperti biasanya, sayapun ke dokter sendirian tanpa ditemani oleh suami, sampai akhirnya anak ini lahir pada bulan yang ke-9. Dan Alhamdulillah tidak ada kesulitan waktu melahirkannya.” Terlihat butiran air menetes dari dua mata Wulan. Isak tangisnya pun membuat hati pak Udin iba.

” Lalu siapa sebenarnya suami kamu, Wulan?”

Wulan pun mencoba untuk meneruskan ceritanya walaupun air matanya membanjiri pipi kurusnya,” setelah anak saya lahir, dia mengajak saya untuk ikut ke agamanya.., hati saya terasa terjepit, ternyata selama ini suami saya hanya memakai topeng untuk menambah pemeluk agamanya. Saya pun tidak mau kalau saya dan anak saya menjadi mangsanya untuk merubah akidah saya. Waktu suami saya pergi dari rumah, saya mencoba untuk kabur dari rumah dan mau kembali ke kampong halaman, tapi saya malu dengan keluarga dan tetangga, sehingga saya berpikiran menjadi gelandangan saja..”

Hati pak Udin pun trenyuh mendengar cerita si anak didiknya waktu di SMP. Beliau pun sempat meneteskan airmata karena ketegaan suami yang berlaku sedemikian rupa terhadap istrinya.

“Ya sudah, Wulan bisa tinggal disini untuk sementara sambil membantu-bantu di pabrik tahu samping rumah ini. Nanti kalau Wulan sudah siap menemui keluarga Wulan, pasti kami siap mengantar.”

“Terima kasih sekali pak, maaf ya pak ngrepoti”

“Ngga’ apa apa Wulan, ini kewajiban bapak pada anak bapak.”

Tak lama kemudian, ibu pun datang dengan membawa telor balado dan kerupuk udang, tanda hidangan sudah siap untuk disantap. Wulan pun tanpa disuruh langsung menuju dapur dan membantu ibu membawakan piring dan sendok untuk makan bersama.

Selesai makan mereka bertiga ngobrol santai di beranda rumah. Wulan sudah dianggap anak sendiri oleh pak Udin. Tampak wulan bahagia. Senyumannya mengembang terus dari bibirnya. Apalagi takkala pak Udin cerita tentang kenakalan Wulan waktu menjadi anak muridnya dulu. []

RATAPAN SANG HINA

1_573878598l.jpg

Dinding kamarku mulai mendengar

Zamrud dalam cincinku memberiku motivasi

Alam pun ikut serta dalam pembentukan kepribadianku

Kurasakan lengah bersahabat dengan mereka

Yang bersusah payah mendidikku tanpa imbalan

Tapi aku tidak pernah menghiraukan mereka

Alangkah meruginya aku dengan penuh penyesalan

Mustika ilmu pemberiannya kulepas begitu saja

Angan yang tertanam waktu kecil

Nampak terkikis dengan ombak kelalaianku

Cermin yang selalu mengoreksiku

Iba, tapi enggan menyapaku lagi

Naluri kedewasaanku, tergilas dengan gerigi waktu

Tarian kepedihan mengarungi samudra kehidupanku

Algojo kesengsaraan bergembira diatas ratapanku

Unggun kebahagiaanku padam

Nurani berontak untuk dapatkan haknya

Tanpa melihat harta dan kekuasaanku

Uluran kasih batin pun ingin menyelamatkanku

Ku hanya bisa pasrah pada Sang Penguasa

Ya Rabb….

Bila saja Engkau menghendaki,

Intan pun bisa berubah menjadi arang yang hitam kelam

Desiran angin sepoi yang membuatku terbenam dalam tidurku

Akan berubah menjadi badai yang dahsyat dengan izinMu

Demikianlah hambaMu yang hina bersimpuh, dan bersujud

Akankah dosa dan kealpaanku terampuni….

RidhoMu yang selalu aku tunggu………….

Ilahi, ampunilah hambaMu dan kabulkanlah do’aku