Seluruh makhluk di dunia ini diciptakan saling berpasang-pasangan. Ada keburukan ada kebaikan, ada hitam ada putih ada positif ada negatif dan ada yang pro ada yang kontra. Itulah kehidupan yang menjadi fenomena dinamis seluruh makhlukNya di alam semesta ini. Kalaupun seperti si August Comte yang melahirkan sosiologi dengan perancancangan “three stages”nya menginginkan kesamaan struktur dan status antar warganya. Atau seperti mbah Karl Marx yang dengan ideologi sosialis dikembangkan menjadi komunis kapitalis, agar semuanya dapat hidup sama. Sehingga seluruh warganya tampak hidup sejajar dan makmur. Tanpa harus melempar dan mencengkram antara satu dengan yang lainnya.
Tetapi, orang yang bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan lainnya belum tentu dia berpaham sosialis. Atau dengan meminjam istilah lain “sosialisasi boleh tapi jangan sosialis”. Hal ini telah tertulis dalam Al-Qur’an : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian yang terdiri dari lelaki dan perempun, dan menjadikan berbagai berbangsa-bangsa dan berkelompok-kelompok, agar kalian saling mengenal..”
Saling mengenal disini tidak untuk saling menjatuhkan, atau tidak untuk saling iri antar bangsa, ras, negara, partai bahkan pribadi dengan yang lainnya, tapi agar dapat mengenal dan mempelajari lebih dalam, sehingga dapat memahami dan dengan pemahaman itu dapat menghindari kerusuhan, dan problematika yang tidak diinginkan. Ataupun dengan pemahaman itu, kita dapat mengambil hal yang terbaik dari yang lainnya. Karena setiap manusia itu mempunyai sifat dan pemikiran yang berbeda-beda.
Sesama makhluk yang diciptakan fi ahsani-t-taqwim, kita tetap saja namanya makhluk yang tidak mempunyai hak untuk mengekang orang lain yang lebih lemah. Kita mempunyai hak untuk tawashow bil haqqi bukan nyuruh