Siang itu, di kala sang surya menebarkan panasnya, membuat awan menyingkir, menjauh bahkan bersembunyi dari sengatannya, aku bertemu dengan tiga orang teman karibku yaitu Rosyid, Kurnia dan Muji di depan ruangan 105 di fakultas hukum. Mereka mengajakku untuk pergi ke warnet depan universitas, ”Alan, yuk, pergi ke warnet mumpung hari belum terlalu sore,” ajak Rosyid. “A..yuk, tapi inget loh ya, jangan lama-lama,” pintaku ke teman-teman. “ Yoi…, paling cuma buka email, terus balas,” kata Muji sambil mengemukakan alasannya. “Masak gak chatting sich, gak asyik man,”celetuk Kurnia yang memang suka chatting. “Ya terserah, yang penting gak lebih dari 2 jam,”kataku sambil berjalan menuju warnet. Karena uangku hanya pas untuk “ngenet” di warnet.
Kita bersama-sama memasuki warnet yang sudah menjadi langganan. Lalu kita masuk ke dalam ruangan internet yang berbeda, seperti yang telah ditentukan oleh mas Anton mahasiswa pasca sarjana yang mempunyai sambilan warnet itu. Kutulis beberapa website yang ingin aku ketahui. Sewaktu kubuka website berita Indonesia yang masih hangat, yaitu tentang bencana gempa bumi di DIY Yogyakarta dan Jawa Tengah yang masih belum valid beritanya, hatiku berdebar kencang, darahku mengalir deras bagai air terjun Niagara, pikiranku melayang menembus khayalan negatif dan terseok-seok menuju arah yang tak tentu. Seakan-akan aku tidak percaya dengan apa yang tertulis dalam media tersebut.
Ribuan jasad manusia telah terbujur kaku ditinggalkan arwahnya, puluhan ribu orang mengadukan nasibnya ke rumah sakit yang berada di sekitar daerah mereka, rumah sakit-rumah sakit pun tidak cukup menampung seluruh pasien walaupun jalan, ruang tunggu dan teras rumah sakit di jadikan bilik, tenda-tenda darurat didirikan untuk membantu sebagian keluarga yang rumahnya di luluh lantakkan oleh getaran bumi yang sangat keras itu, siang malam dokter dan perawat sibuk mengobati para pasien tanpa mengenal lelah.
Hujan pun mengguyur kota itu tanpa ada perasaan kasihan kepada penduduknya, wabah penyakit mulai menyebar ke sela-sela kesehatan penghuni kota itu. Lengkingan suara tangis anak yang ditinggal kedua orang tuanya memunculkan rasa iba, ketidakberdayaan seorang ibu yang melihat anak kesayangannya penuh luka terbaring di dalam kamar operasi berharap sang buah hatinya dapat kembali bercanda, tersenyum, dan tertawa seperti sebelumnya.
Hatiku selalu bertanya-tanya setelah keluar dari ruangan warnet speed itu, ”bagaimana ya kabar keluargaku yang ada di Yogyakarta? Daerahku kena juga apa tidak ya? ….” Aku terdiam selama perjalananku pulang ke kamar. Teman-temanku pun terheran-heran dengan keadaanku yang tidak biasa itu. Mereka menggodaku dan memancingku agar mau ketawa dan bercanda seperti hari-hari sebelumnya,” hei man, kenapa sich kamu kok sensi kayak gitu,” Kurnia mulai melepaskan kata-katanya untuk menghiburku. “ Putus ya ama dia..?” Rosyid pun tidak mau kalah sama Kurnia. “ eh, dia siapa…? Alan kan jomblo abizz,” ungkap Kurnia lagi. Begitu canda teman-temanku di pori-pori keterdiamanku.
Sesampainya di depan kamar 74, aku berpamitan dan berpisah dengan teman-teman untuk masuk ke kamar itu. Wajah ku yang biasanya dihiasi dengan tawa, dan senyuman, kini tak tampak lagi. Kubaringkan tubuhku diatas tempat tidurku dengan pikiran yang kalut. Kukirimkan sms berkali-kali kepada keluarga yang ada di rumah untuk menanyakan kabar, tapi tak satupun sms ku dijawab. Kuingin menelepon ke rumah, tapi uang habis karena baru akan dikirim 4 hari lagi. Akupun mau pinjam ke teman-teman dekatku, tapi pinjaman yang kemarin aja belum dibayar.
Aku biarkan diriku tenggelam dalam kegalauan hari itu. Kumandang adzan mendayu-dayu, waktu Ashar pun tiba, kuambil air wudlu, kuhamparkan sajadah yang selalu menemaniku dalam sholat, lalu kukerjakan kewajibanku kepada Ilahi. Doapun kupanjatkan keharibaanNya, kupinta agar keluargaku dan seluruh warga yang terkena musibah itu diberikan keselamatan, ketabahan, kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi cobaan dan ujian dariNya.
Kurebahkan kembali tubuhku diatas kasur yang berseprai kuning itu. Ku terawang langit-langit dikamarku dengan pandangan kosong. Tiba-tiba tone sms dari hpku berbunyi, kulihat mobile itu, ternyata dari temanku, si Roni, yang sedang menginap di rumah salah seorang diploma,”Lan, coba hubungi keluarga loe yang ada di rumah, ada gempa di Yogya, berkekuatan 6,2 skala richter, banyak korban,” tulisan message dalam hpku itu. Karena dia waktu itu melihat berita dari saluran televisi Indonesia, dan tahu kalau rumahku dekat dengan Yogyakarta.
Hati ini terasa tambah gundah, pikiran pun tambah kalut, kupaksakan mataku agar dapat terpejam dan bisa menenangkan seluruh anggota tubuhku. Kumerasa dinding kamarku berbisik kepadaku dan menyuruhku untuk menelpon keluarga yang di rumah. Tapi kuabaikan seluruh kata-katanya, karena baru punya penyakit “kanker” alias kantong kering.
Tak terasa waktu Isya’ pun berlalu. Perut kosong pun tak kurasakan. Aku hanya duduk terdiam di depan jendela kamar sambil ku pandangi purnama yang berkolaborasi dengan bintang seakan-akan mengetahui apa yang sedang kurasakan. Indahnya purnama yang menampakkan sinarnya dalam kegelapan malam, membuatku terpesona dan inginku menggapainya untuk menjadikan teman obrolanku. Ku merasa sakit, lemah dan tak berdaya waktu itu. Luapan kata-kata yang tak terbendung lagi, mengalir diatas hamparan kertas dalam diaryku dengan pena kesayangan pemberian adik waktu ku menginjak umurku yang ke 19, bertintakan hitam yang selalu siap mengungkapkan rasa bathinku. ”Hamba-Nya yang hina ini baru diuji dengan sepercik ujian. Ya Tuhanku, berikanlah kekuatan padaku untuk memikul apa yang Engkau pikulkan, dan berikanlah keselamatan, kesabaran dan ketabahan bagi keluargaku yang tinggal disana,” terbesit harapan dan do’a didalam hatiku.
Pagi harinya, aku masih belum bisa membuang jauh perasaan dalam hatiku. Lalu aku putuskan untuk tidak masuk kuliah waktu itu dan istirahat di kamar untuk menghilangkan rasa yang menancap dalam di hatiku. Teman-teman karibku pun bertanya-tanya, kenapa aku tidak ke kampus. Walaupun fakultas berbeda tapi masih satu gedung, makanya mereka tahu kalau aku tidak masuk kelas. Pada waktu itu, Rosyid tidak ada jam siang sehingga dia pergi ke kamarku lebih dulu dari teman-teman yang lain.
“Assalamu’alaiku…m,” ucapan salam Rosyid sambil mengetuk pintu. Aku pun menjawab salamnya dan membukakan pintu kamarku. “Lan, kenapa kamu gak masuk kelas? Sehat aja kan?”dia langsung memberondong pertanyaan kepadaku. “Gak papa sich, cuma ada sedikit problem aja. Ente ada uang gak, 200 rupees aja?” jawabku sambil balik bertanya. “Ada …, mau untuk apa?” tanyanya. “ Mau nelpon rumah, “jawabku. Diapun memberiku 200 rupees. “Ana tinggal dulu ya, ente disini dulu aja, sebentar kok..!” lalu aku meninggalkan kamarku untuk pergi ke wartel di samping jalan.
“Bhai, ana mau nelpon, bisa kan?”tanyaku kepada penjaga telepon itu yang sudah hafal sama aku. “please…,!”dia mempersilahkanku. Saat kupencet tombol nomor hp ayahku, terdengar suara nada putus. Kucoba lagi dengan redial dua kali, tapi juga masih kudengar nada yang sama. Lalu kuhubungi kakak sepupuku yang tinggal di sekitar rumahku, ku dengar nada masuk tapi tidak ada yang mengangkat hpnya. Setelah itu kuhubungi kakak perempuan sepupuku, aku juga tidak mendengar nada sambung dari telepon itu.
Perasaanku tambah tidak tenang bercampur aduk dengan rasa bingung dan was-was. Seluruh keluarga dekat yang kuhubungi tidak ada yang bisa memberikan jawaban kepadaku. Lalu kubelikan uang 200 rupees itu pulsa, agar bisa menghubungi rumah wherever and whenever. Kupaksa kakiku untuk melangkah kembali ke kamarku yang seakan-akan berkilo-kilo beban menggantung dan melingkar diatas pergelangan kaki.
Sesampaiku di kamar, si Rosyid pun menyambutku dan bertanya kepadaku, ”Gimana Lan, sudah clear belum?” Aku terdiam sebentar, lalu aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padaku pada hari yang telah lalu sampai yang baru saja terjadi. Dia juga merasa iba padaku dan memberikan sedikit sugesti untuk mencoba menghubungi orang tuaku lagi.
Jam yang menempel di dinding sebelah utara, menunjukkan pukul 03.30 sore. Rosyid berpamitan kepadaku untuk pulang ke kamarnya karena masih ada assignment dari dosen yang harus diselesaikan hari itu. Kuantar dia sampai depan pintu dan ucapan salam menandai perpisahan kita.
Kucoba lagi untuk menghubungi hp milik ayahku. “Alhamdulilla…h,” aku kegirangan waktu mendengar nada masuk. Setelah bunyi yang kelima, diangkatlah hpnya oleh ibuku yang selalu siap mendengar curahan isi hatiku. Kutanyakan tentang apa yang aku khawatirkan kepadanya. Beratus-ratus soal kuluapkan kepadanya tentang keluarga di rumah dan di Yogyakarta. Kuhapuskan debu ke-was-was-an yang melekat di dalam hatiku. Kuisi dengan air kepastian yang jernih sebagai penyejuk qolbu.
Jutaan puji syukur, kupanjatkan kehadirat Rabb yang telah melindungi keluargaku. Kusingkapkan tabir kesedihan yang menutupi diriku, kutinggalkan lembah kemuraman yang menancap di wajahku, dan kusegarkan kembali jasadku dengan siraman nikmat Ilahi.
Nada dering hpku bersuara, ku dekati dan kulihat layarnya untuk mengetahui siapa yang menelponku. Ternyata Yina, teman dari Indonesia yang sudah kukenal sebelum keberangkatanku meninggalkan tanah air. “Assalamu’alaiku..m, Lan, gimana kabar keluargamu di rumah?”tanyanya. Kujawab seperti apa yang telah diceritakan oleh bundaku. Diapun sempat kaget dan meneteskan air mata sewaktu mendengar kabar itu dari keluarganya lewat telepon. “Ya sudahlah, alhamdulillah gak ada apa-apa kok,” kataku kepadanya. Lalu dia pun mengakhiri telepon itu.
Inilah salah satu ombak yang menerpaku dari hamparan samudra yang sangat luas. Kutanyakan pada diri sendiri “Akankah aku tetap tegak diatasnya ataukah aku akan tenggelam dan menjadi santapan ikan-ikan buas yang kelaparan?” Kuyakinkan diri untuk tetap mengarungi samudra itu walaupun ombak selalu menerjang dan badai yang siap mengekang. Tapi ku harus selalu mempersiapkan bekal untuk melalui hambatan, halangan dan rintangan yang akan menghalangiku di perjalanan. Karena sebuah tujuan yang harus kugapai dengan izin dan ridho Ilahi.{}